Perencanaan strategis; pentingnya suatu perencanaan; hubungan perencanaan dengan fungsi lain; proses penyusunan perencanaan.
Perencanaan
strategis; pentingnya suatu perencanaan; hubungan perencanaan dengan fungsi
lain; proses penyusunan perencanaan.?
1. Pengertian Perencanaan Strategis
Perencanaan
strategis adalah kegiatan manajemen organisasi yang digunakan untuk menetapkan
prioritas, memfokuskan energi dan sumber daya, memperkuat kinerja operasional.
Perencanaan strategis juga memastikan bahwa karyawan dan pemangku kepentingan
lainnya bekerja menuju tujuan bersama dan menetapkan kesepakatan tentang hasil
yang diinginkan, serta menyesuaikan arah organisasi saat terjadi perubahan. Ini
adalah suatu upaya kedisiplinan yang menghasilkan keputusan dan tindakan
mendasar untuk membentuk organisasi tersebut mengetahui tentang siapa yang
dilayani organisasi tersebut, apa yang dilakukan organisasi tersebut, dan
mengapa harus melakukan hal tersebut. Perencanaan strategis yang efektif
tidak hanya mengartikulasikan ke mana suatu organisasi berjalan dan tindakan
yang diperlukan untuk membuat kemajuan, tetapi juga bagaimana ia akan tahu jika
ini akan terus menerus berhasil.
2. Konsep Perencanaan Strategis
Perencanaan
strategis terkait dengan masa depan. Suatu proses perencanaan pasti akan
melibatkan berbagai tingkat kegagalan. Beberapa bagian dari organisasi
memerlukan perencanaan selama bertahun-tahun ke depan, namun untuk divisi lain
membutuhkan perencanaan hanya untuk waktu yang singkat. Hal ini juga dapat
didefinisikan sebagai proses penentuan tujuan organisasi dan sumber daya yang
akan digunakan untuk menangani tujuan organisasi, mengatur akuisisi,
pemanfaatan, dan disposisi sumber daya .
Contoh
perencanaan strategis dalam organisasi adalah seperti : diversifikasi bisnis
menjadi lini baru. Tingkat pertumbuhan perlu direncanakan dalam penjualan,
jenis produk baru yang akan ditawarkan, dan sebagainya. Perencanaan strategis
mencakup semua bidang fungsional bisnis dan dipengaruhi dalam kerangka kerja
jangka panjang yang mungkin berhubungan dengan faktor ekonomi, teknologi,
sosial dan politik.
Ini
juga merupakan analisis berbagai faktor lingkungan – khususnya yang berkaitan
dengan bagaimana suatu organisasi berhubungan dengan lingkungannya. Umumnya,
untuk sebagian besar organisasi, periode perencanaan strategis berkisar antara
tiga hingga lima tahun.
3. Proses Perencanaan Strategis
Proses
perencanaan ini mirip dengan Anda mencari analisa SWOT untuk
bisnis atau organisai Anda. Namun ada beberapa poin perbedaan dalam menetapkan
perencanaan strategis. Berikut adalah 5 langkh penerapa strategis:
1.
Penentuan Misi dan Tujuan
Perencanaan
strategis dimulai dengan penentuan misi untuk organisasi. Tujuan utama
organisasi yang telah ditetapkan harus didefinisikan dengan jelas. Perencanaan
strategis berkaitan dengan hubungan jangka panjang organisasi dengan lingkungan
eksternalnya. Jadi, misi bisnis harus cermat dalam memperkirakan dampak
sosial organisasi dan eksternal
2.
Analisis Lingkungan
Untuk
mengidentifikasi peluang dan ancaman, analisa lingkungan eksternal organisasi
perlu dilakukan. Catat faktor penting yang mungkin memengaruhi kegiatan
organisasi kedepannya.
3.
Penilaian Diri Sendiri
Pada
langkah berikutnya, kekuatan dan kelemahan organisasiperlu dianalisa. Analisis
semacam ini akan memungkinkan perusahaan untuk memanfaatkan kekuatannya dan
untuk meminimalkan kelemahannya. Perusahaan dapat memanfaatkan peluang
eksternal dengan berkonsentrasi pada kapasitas internalnya. Dengan menyesuaikan
kekuatannya dengan peluang yang, perusahaan dapat menghadapi persaingan dan
mencapai pertumbuhan.
4.
Pengambilan Keputusan Strategis
Keputusan
strategis kemudian dibuat dan dievaluasi. Setelah itu, keputusan strategis
dibuat untuk mengimprovisasi kinerja operasional. Organisasi harus memilih
pilihan yang paling sesuai dengan kemampuannya. Misalnya, untuk berkembang,
suatu perusahaan harus masuk ke segmen pasar baru atau menjual produk baru namun tetap di pasar
yang sudah ada.
Pilihan
strategi tergantung pada lingkungan eksternal, persepsi manajerial, sikap
manajer terhadap risiko, strategi masa lalu dan kekuatan manajerial juga
efisiensi.
5.
Implementasi dan Pengendalian Strategi
Setelah
strategi ditentukan, strategi itu harus diterjemahkan ke dalam rencana
operasional. Program dan anggaran dikembangkan untuk setiap fungsi. Rencana
operasional jangka pendek disiapkan untuk menggunakan sumber daya secara
efisien. Kontrol harus dikembangkan untuk mengevaluasi kinerja sebagai strategi
yang mulai digunakan.
Jika
terdapat hasil aktual berada di bawah ekspektasi, strategi harus ditinjau atau
dikaji ulang. hal ini dan disesuaikan dengan perubahan di lingkungan eksternal.
Sebagai
salah satu perencanaan strategis, penting juga dalam suatu organisasi memliki
sistem pencatatan keuangan atau akuntansi yang baik. Bisa dipastikan, jika alur
pencatatan keuangan dalam suatu organisasi tidak baik maka organisasi atau
bisnis tersebut tidak akan bertahan lama. Anda bisa mencoba software akuntansi
yang andal dan terpercaya, contohnya adalah Accurate online. Accurate online
adalah software atau aplikasi akuntansi berbasis cloud yang sudah digunakan
banyak entitas bisnis mulai dari perusahaan besar sampai UKM
Pentingnya
Perencanaan Sebagai Fungsi Manajemen
Perencanaan
menjadi aspek paling penting karena segala ide atau konsep untuk mencapai
tujuan tertuang dalam perencanaan. Juga menjadi paling dasar karena melalui
perencanaan, segala hal yang akan dilakukan bisa diukur dan diprediksi secara
baik dan akurat.
Langkah Awal Sebuah
Usaha
Untuk
mencapai tujuan diperlukan tindakan yang dirumuskan melalui perencanaan. Jadi,
perencanaan sebenarnya bukan saja menjadi langkah awal, namun menjadi patokan
atau standar dalam menjalankan sebuah organisasi. Dalam sebuah organisasi yang
menganut sistem apapun pasti akan mengawali setiap kegiatannya dengan fungsi
perencanaan.
Sebagai
contoh, dalam organisasi pemerintahan negara yang menganut sistem trias
politika didalamnya terdapat tiga lembaga yaitu eksekutif, legislatif, dan
yudikatif. Setiap lembaga memiliki fungsi masing-masing namun tetap memiliki
ketergantungan.
Dalam
pemilihan presiden, pasti sudah ada visi dan misi yang disusun berlandaskan
dasar negara. Visi dan misi itulah yang menjadi fungsi perencanaan paling dasar
sebagai presiden yang akan memimpin lembaga eksekutif negara, juga sebagai
kepala negara. Setelah terpilih dan dilantik secara sah, presiden akan mulai
menjalankan rencananya.
Namun
itu tidak mudah, harus ada penjabaran lagi dari konsep perencanaan awal.
Penjabaran perencanaan itu akan dituangkan dalam Rapat Kabinet yang akan
mengahasilkan program kerja tahunan. Inilah hasil penjabaran yang merinci dari
perencanaan awal yang sudah dirumuskan.
Setelah
menyusun program kerja tahunan, presiden dan para menteri harus menyusun
rencana keuangan tahunan negara yang tertuang dalam Rancangan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN). RAPBN berisi tentang keuangan negara
yang dibagi menjadi dua bagian besar yaitu pendapatan negara dan belanja
negara.
Setelah
Program Kerja Tahunan dan RAPBN tersusun, lembaga eksekutif kemudian akan
memasukan konsep tersebut kepada lembaga legislatif. Mengapa? karena lembaga
legislatif yang memiliki fungsi perencanaan dan fungsi anggaran. Setiap rencana
kerja dan anggaran pemerintah (lembaga eksekutif) harus disetujui lembaga legislatif.
Lembaga
legislatif harus memastikan bahwa setiap rencana program kerja dan rencana
keuangan negara yang disusun lembaga eksekutif harus sesuai dengan dasar negara
serta peraturan yang berlaku.
HUBUNGAN
PERENCANAAN DENGAN FUNGSI MANAJEMEN
HUBUNGAN
PERENCANAAN DENGAN FUNGSI-FUNGSI MANAJEMEN LAINNYA .
Fungsi
perencanaan dan fungsi-fungsi serta kegiatan-kegiatan manajerial lainnya adalah
saling berhubungan, saling tergantungdan berinteraksi.
Pengorganisasian
dan penyusunan personalia
Pengorganisasian
adalah proses pengaturan kerja bersama sumber daya-sumber daya keuangan, phisik
dan manusia dalam organisasi. Perencanaan menunjukan cara dan menunjukan sumber
daya-sumber daya tersebut untuk mencapai efektivitas paling tinggi.
Pengarahan
Fungsi
pengarahan selalu berkaitan dengan perencanaan. Perencanaan menentukan
kombinasi yang paling baik dari faktor-faktor, kekuatan-kekuatan, sumber
daya-sumber daya dan hubungan-hubungan yang di perlukan untuk mengarahkan dan
memotivasi karyawan.
Pengawasan
Perencanaan
dan pengawasan saling berhubungan sangat erat, sehingga sering d sebut sebagai
“kembar siam” dalam manajemen. Pengawasan adalah penting sebagai produk
perencanaan efektif. Oleh karena itu, pengawasan bertindak sebagai kriteria
penilaian pelaksanaan kerja terhadap rencana. Tujuan setiap rencana adalah
untuk membantu sumber daya dalam kontribusinya secara positif terhadap
pencapaian tujuan dan sasaran organisasi.
PERENCANAAN
Setiap
organisasi perlu melakukan suatu perencanaan dalam setiap kegiatan
organisasinya, baik perencanaan produksi, perencanaan rekrutmen karyawan baru,
program penjualan produk baru, maupun perencanaan anggarannya. Perencanaan
(planning) merupakan proses dasar bagi organisasi untuk memilih sasaran dan menetapkan
bagaimana cara mencapainya. Oleh karena itu, perusahaan harus menetapkan tujuan
dan sasaran yang hendak dicapai sebelum melakukan proses-proses perencanaan.
Perencanaan
merupakan tahapan paling penting dari suatu fungsi manajemen, terutama dalam
menghadapi lingkungan eksternal yang berubah dinamis. Dalam era globalisasi
ini, perencanaan harus lebih mengandalkan prosedur yang rasional dan sistematis
dan bukan hanya pada intuisi dan firasat (dugaan).
Pokok
pembahasan pada modul ini berfokus pada elemen-elemen tertentu dari proses
perencanaan dan proses yang sangat berhubungan dengan pemecahan masalah dan
pengambilan keputusan. Kemudian memperkenalkan konsep perencanaan dan
menyajikan sejumlah pendekatan untuk mengefektifkan perencanaan dari berbagai
jenis.
PROSES
PERENCANAAN
Sebelum
para manajer dapat mengorganisasi, memimpin, atau mengendalikan, terlebih
dahulu mereka harus membuat rencana yang memberikan arah pada setiap kegiatan
organisasi. Pada tahap perencanaan para manajer menentukan apa yang akan
dikerjakan, kapan akan mengerjakan, bagaimana mengerjakannya, dan siapa yang
akan mengerjakannya.
Kebutuhan
akan perencanaan ada pada semua tingkatan manajemen dan semakin meningkat pada
tingkatan manajemen yang lebih tinggi, dimana perencanaan itu mempunyai
kemungkinan dampak yang paling besar pada keberhasilan organisasi. Pada
tingkatan top manajer pada umumnya mencurahkan hampir semua waktu
perencanaannya jauh ke masa depan dan pada strategi-strategi dari seluruh
organisasi. Manajer pada tingkatan yang lebih rendah merencanakan terutama
untuk subunit mereka sendiri dan untuk jangka waktu yang lebih pendek.
Terdapat
pula beberapa variasi dalam tanggung jawab perencanaan yang tergantung pada
ukuran dan tujuan organisasi dan pada fungsi atau kegiatan khusus manajer.
Organisasi yang besar dan berskala internasional lebih menaruh perhatian pada
perencanaan jangka panjang daripada perusahaan lokal. Akan tetapi pada umumnya
organisasi perlu mempertimbangkan keseimbangan antara perencanaan jangka panjang
maupun perencanaan jangka pendek. Karena itu penting bagi para manejer untuk
mengerti peranan perencanaan jangka pendek dan jangka panjang dalam pola
perencanaan secara keseluruhan.
Menurut
T. Hani Handoko (1999) kegiatan perencanaan pada dasarnya melalui empat tahap
sebagai berikut:
1.
Menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan.
2.
Merumuskan keadaan saat ini
3.
Mengidentifikasikan segala kemudahan dan hambatan
4.
Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan
ALASAN
PERLUNYA PERENCANAAN
Salah
satu maksud dibuat perencanaan adalah melihat program-program yang dipergunakan
untuk meningkatkan kemungkinan pencapaian tujuan-tujuan di waktu yang akan
datang, sehingga dapat meningkatkan pengambilan keputusan yang lebih baik. Oleh
karena itu, perencanaan organisasi harus aktif, dinamis, berkesinambungan dan
kreatif, sehingga manajemen tidak hanya bereaksi terhadap lingkungannya, tapi
lebih menjadi peserta aktif dalam dunia usaha.
Ada
dua alasan dasar perlunya perencanaan:
1.
untuk mencapai “protective benefits” yang dihasilkan dari pengurangan
kemungkinan terjadinya kesalahan dalam pembuatan keputusan
2.
untuk mencapai “positive benefits” dalam bentuk meningkatnya sukses pencapaian
tujuan organisasi.
Beberapa
manfaat perencanaan adalah:
1.
membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan
lingkungan
2.
memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran operasi lebih jelas
3.
membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat
4.
memberikan cara pemberian perintah untuk beroperasi
5.
memudahkan dalam melakukan koordinasi di antara berbagai bagian organisasi
6.
membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah dipahami
7.
meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti
8.
menghemat waktu, usaha, dan dana
Beberapa
kelemahan perencanaan adalah:
1.
pekerjaan yang tercakup dalam perencanaan mungkin berlebihan pada kontribusi
nyata
2.
perencanaan cenderung menunda kegiatan
3.
perencanaan mungkin terlalu membatasi manajemen untuk berinisiatif dan
berinovasi
4.
kadang-kadang hasil yang paling baik didapatkan oleh penanganan setiap masalah
pada saat masalah tersebut terjadi.
5.
ada beberapa rencana yang diikuti cara-cara yang tidak konsisten
HUBUNGAN
PERENCANAAN DENGAN FUNGSI LAIN
Perencanaan
adalah fungsi yang paling dasar dari fungsi manajemen lainnya. Fungsi
perencanaan dan fungsi-fungsi serta kegiatan manajerial lainnya adalah saling
berhubungan, saling tergantung, dan berinteraksi.
Pengorganisasian
(Organizing). Perencanaan menunjukkan cara dan perkiraan bagaimana mengorganisasikan
sumber daya-sumber daya organisasi untuk mencapai efektivitas paling tinggi.
Pengarahan
(directing). Perencanaan menentukan kombinasi paling baik dari sumber
daya-sumber daya yang diperlukan untuk mengarahkan, mempengaruhi dan memotivasi
karyawan.
Pengawasan
(controlling). Perencanaan dan pengawasan saling berhubungan erat. Pengawasan
bertindak sebagai criteria penilaian pelaksanaan kerja terhadap rencana.
RENCANA
OPERASIONAL
Terdapat
dua jenis utama dari rencana yaitu rencana strategis dan rencana operasional.
Rencana strategis merupakan rencana yang dirancang untuk mencapai tujuan yang
luas dari perusahaan yaitu untuk melaksanakan tugas-tugas perusahaan. Sedangkan
rencana operasional merupakan rencana yang memberikan rincian tentang bagaimana
rencana strategis itu akan dilaksanakan.
Rencana
operasional terdiri dari:
1.
Rencana sekali-pakai (single-use plans), dikembangkan untuk mencapai tujuan
khusus dan dibubarkan bila rencana ini telah selesai dilaksanakan
2.
Rencana tetap (standing plans), merupakan pendekatan yang telah dibakukan untuk
menangani situasi yang berulang kali terjadi dan yang dapat dengan mudah
diantisipasi
PERENCANAAN
STRATEGIK
Perencanaan
strategic (strategic planning) adalah proses pemilihan tujuan-tujuan
organisasi, penentuan strategi, program-program strategi, dan penetapan
metoda-metoda yang diperlukan untuk menjamin bahwa strategi dan kebijaksanaan
telah diimplementasikan. Perencanaan strategi juga merupakan proses perencanaan
jangka panjang yang disusun untuk mencapai tujuan organisasi.
Ada
tiga alasan yang menunjukkan pentingnya perencanaan strategis. Pertama,
perencanaan strategis memberikan kerangka dasar bagi perencanaan-perencanaan
lainnya. Kedua, pemahaman terhadap perencanaan strategis akan mempermudah
pemahaman bentuk perencanaan lainnya. Ketiga, perencanaan strategis merupakan
titik permulaan bagi penilaian kegiatan manajer dan organisasi.
MENGATASI
HAMBATAN PERENCANAAN EFEKTIF
Ada
dua jenis hambatan terhadap pengembangan rencana yang efektif, yaitu, pertama
adalah perlawanan atau penolakan internal para calon perencana terhadap
penetapan sasaran dan pembuatan rencana untuk mencapainya. Hambatan kedua
adalah keengganan para anggota organisasi untuk menerima perencanaan dan
rencana yang akan menyebabkan perubahan.
Untuk
mengatasi hambatan-hambatan terhadap perencanaan yang efektif para manajer
harus membantu bawahan dengan sebaik-baiknya dengan menciptakan system
organisasi yang mempermudah penetapan sasaran dan bukan yang menghambatnya.
Membantu
individu menetapkan sasaran. Para manajer yang tidak memiliki pengetahuan
tentang organisasi atau lingkungan eksternalnya, memerlukan bantuan dalam
mengembangkan sistem informasi yang baik. Bantuan dapat berupa program
pengembangan manajemen dalam perusahaan untuk membantu dalam mengadakan
hubungan informal dengan orang-orang dari berbagai departemen, divisi, dan
lokasi. Bilamana perencanaan merupakan proses yang dipahami dengan baik, maka
akan lebih mudah bagi tiap individu untuk pengembangan rencana guna mencapai
sasaran tersebut.
Mengatasi
perlawanan terhadap perubahan. Untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan cara
melibatkan para karyawan yang akan terkena pengaruh dalam proses perencanaan.
Kemudian dengan memberikan lebih banyak informasi kepada para karyawan tentang
rencana dan kemungkinan akibat-akibatnya. Selain itu juga, dengan menyadari
dampak dari perubahan-perubahan yang diusulkan terhadap para anggota organisasi
dan memperkecil gangguan yang tidak perlu.
Management
by Objectives (MBO)
Istilah
Management by Objectives (MBO) atau manajemen berdasarkan sasaran diperkenalkan
oleh Peter Drucker pada tahun 1954 dalam bukunya ‘The Practice of Management’.
MBO mengacu kepada seperangkat prosedur yang formal yang dimulai dengan
penetapan sasaran dan dilanjutkan sampai peninjauan kembali hasil
pelaksanaannya. Kunci MBO adalah MBO merupakan proses partisipasi atau peran
serta, yaitu secara aktif melibatkan para manajer dan anggota staf pada setiap
tingkat organisasi.
Dalam
Objectives dengan Management by Drives (Manajemen berdasarkan dorongan). Contoh
manajemen berdasarkan dorongan adalah tanggapan organisasi terhadap tekanan
keuangan atau pasar yang baru dengan “dorongan penghematan” (economy drive)
atau “dorongan produksi” (production drive). Dalam praktek manajemen
berdasarkan dorongan ini menghasilkan suatu perbaikan yang hanya bersifat
sementara. Sedangkan dalam MBO, perencanaan efektif tergantung sampai sejauh
mana manajer menetapkan dengan jelas tujuan yang berlaku secara khusus bagi
fungsinya di dalam perusahaan. Bagaimana tujuan ini dicapai merupakan hal yang
sangat penting. Para manajer di sini harus menetapkan tujuan dan juga aktif
terlibat dalam proses penetapan tujuan.
Hubungan
antara tujuan individu dengan sasaran umum adalah sangat penting. Tujuan utama
dari pelaksanaan MBO untuk mencapai pelaksanaan yang efektif dari keseluruhan
organisasi melalui pelaksanaan yang efisien dan integrasi bagian-bagiannya.
Kekuatan
MBO
Keuntungan-keuntungan
utama dari program MBO dalam urutan pentingnya adalah sebagai berikut:
1.
memberi kesempatan pada para individu untuk mengetahui apa yang diharapkan dari
mereka
2.
membantu dalam perencanaan dengan membuat para manajer menetapkan sasaran dan
waktu yang ditargetkan
3.
meningkatkan komunikasi antara para manajer dan bawahan
4.
membuat para manajer lebih menyadari tentang sasaran organisasi
5.
membuat proses manajemen lebih wajar dengan memusatkan pada suatu pencapaian.
Program ini juga memberi kesempatan kepada para bawahan untuk mengetahui sebaik
mana mereka bekerja dalam kaitannya dengan sasaran organisasi.
Kelemahan
MBO
Beberapa
kekurangan dari program MBO adalah:
1.
MBO tidak menyelesaikan semua masalah organisasi.
2.
Tidak semua prestasi dapat dikuantifikasikan atau diukur.
3.
Perubahan-perubahan yang diinginkan oleh MBO dalam perilaku para manajer
mungkin juga menimbulkan masalah.
4.
Kelemahan yang melekat dalam proses MBO, dimana ini membutuhkan banyak waktu
dan upaya dalam mempelajari penggunaan teknik MBO dengan tepat.
Membuat
agar MBO efektif
1.
Tunjukkan kesepakatan yang berkesinambungan dari pimpinan tingkat tinggi.
Penerimaan pertama dari para pegawai untuk program MBO dapat berhasil jika
pimpinan tertinggi melakukan usaha bersama untuk mempertahankan agar system itu
tetap jalan dan berfungsi dengan sepenuhnya.
2.
Didik dan latih para manajer. Agar MBO berhasil para manajer harus memahami MBO
tersebut, sehingga mereka harus dididik mengenai prosedur dan keuntungan dari
system MBO.
3.
Rumuskan tujuan-tujuan dengan jelas. Para manajer dan bawahan harus sama-sama
mengerti tujuan-tujuan dengan jelas dan merumuskannya bersama-sama
4.
Laksanakan umpan balik secara efektif. Suatu sistem MBO tergantung pada para
peserta yang mengetahui hubungannya dengan tujuan mereka. Penetapan tujuan
bukan merupakan perangsang yang memadai, tinjauan terhadap prestasi yang
teratur dan umpan balik dari hasil-hasil juga diperlukan.
5.
Anjurkan adanya peran serta. Para manajer harus menyadari peran serta bawahan
dalam penentapan sasaran dapat mengandung suatu pengalokasian kembali
kekuasaan. Para manajer harus mau melepaskan pengendalian langsung tertentu
atas bawahannya dan mendorong bawahannya untuk mengambil peranan lebih aktif
dalam penetaan dan pencapaian tujuan mereka sendiri.
Tahap-
Tahap Perencanaan
Semua
kegiatan perencanaan pada dasarnya melalui empat tahap, yaitu:
- Tahap
1: Menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan.
- Tahap
2: Merumuskan keadaan sekarang/saat ini.
- Tahap
3: Mengidentifikasikan segala kemudahan dan hambatan yang dapat terjadi.
- Tahap
4: Mengembangkan rencana ataupun serangkaian kegiatan untuk mencapai
tujuan.
Alasan
Perlunya Perencanaan
Setiap
perencanaan kadang-kadang memiliki suatu kelemahan, tetapi manfaat yang didapat
dari proses perencanaan jauh lebih banyak. Oleh karana itu, perencanaan tidak
hanya seharusnya dilakukan, tetapi memang harus dilakukan. seperti yang telah
ketahui, fungsi-fungsi manajemen tidak akan berjalan tanpa
adanya suatu proses perencanaan.
Tipe
Perencanaan dan Rencana
Perencanaan
dan rencana dapat diklasifikasikan dalam beberapa cara yang berbeda, adapun
paling tidak lima dasar pengklarifikasian perencanaan, seperti berikut:
Bidang
Fungsional
Tingkat
Organisasi
Karakteristik
Perencanaan
Waktu
Unsur-unsur
Rencana.
Adapun
tipe rencana antara lain:
Rencana-rencana
strategik.
Rencana
operasional.
Rencana
sekali pakai.
Rencana
tetap.
Perencanaan
Strategik
Perencanaan
strategik ialah suatu proses pemilihan tujuan-tujuan organisasi, penentuan
strategi, kebijaksanaan, program-program yang diperlukan dan penetapan metode
yang diperlukan untuk menjamin bahwa strategi dan kebijaksanaan telah
diimplementasikan. Secara ringkas, langkah-langkah proses penyusunan rencana
strategik dapat diuraikan sebagai berikut:
Penentuan misi dan tujuan.
Pengembangan profil perusahaan.
Analisa lingkungan external (luar
peruahaan).
Analisa lingkungan internal yang
meliputi kekuatan serta kelemahan dalam organisasi.
Mengidentifiksi kesempatan maupun
ancaman strategik.
Pembuatan keputusan strategik.
Pengembangan strategi perusahaan.
Implementasi strategi.
Peninjauan kembali dan evaluasi
Keunggulan
dan Kelemahan Rencana Strategik
Setiap
perencanaan biasanya memiliki suatu keunggulan maupun kelemahan dalam
pelaksanaanya, begitupun dengan rencana strategik. Kelebihan dari rencana ini
ialah memiliki dasar pedoman yang konsisten bagi organisasi. Sedangkan
kelemahannya yaitu dalam proses perencanaannya kadang-kadang cenderung
membatasi organisasi terhadap pilihan yang rasional dan cenderung bebas resiko.
Hambatan-Hambatan
Perencanaan
Dalam
pembuatan suatu perencanaan, sering kita temui suatu kendala atau hambatan yang
tentunya membuat kita sangat sulit memntukan pilihan maupun rencana. Sejumlah
alasan mengapa banyak manajer yang ragu bahkan gagal dalam menetapkan tujuan
dan membuat rencana bagi organisasi ataupun kelompok kerja mereka, berikut
penyebabnya:
Kurangnya
pengetahuan tentang organisasi.
Kurang
memahami lingkungan (internal dan external).
Ketidak
mampuan melakukan prediksi secara efektif.
Kesulitan
perencanaan operasi-operasi yang sekali pakai.
Terkendala
biaya.
Takut
gagal atau kurang percaya diri.
Ketidak
sediaan untuk menyingkirkan tujuan-tujuan alternatif (jalan pintas).
Kriteria
Penilaian Efektifitas Rencana
Beberapa
kriteria yang dapat digunakan untuk menilai efektif atau tidaknya suatu
rencana, yaitu:
1. Kegunaan.
2. Ketepatan.
3.Ruang Lingkup.
4.Efektifitas Penggunaan Biaya.
5.Akuntabilitas.
6. Ketepatan Waktu
Pemecahan
masalah
dan pengambilan keputusan; macam keputusan manajemen, tahap-tahap pengambilan
keputusan.
I.
Pengertian Pengambilan Keputusan
a. Pengertian Keputusan
Terdapat beberapa pengertian
keputusan yang telah disampaikan oleh para ahli, diantaranya adalah sebagai
berikut :
(1).Menurut Ralp C. Davis
Keputusan adalah hasil pemecahan
masalah yang dihadapinya dengan tegas. Suatu keputusan merupakan jawaban yang
pasti terhadap suatu pertanyaan. Keputusan harus menjawab pertanyaan tentang
apa yang dibicarakan dalam hubungannya dengan perencanaan. Keputusan dapat pula
berupa tindakan terhadap pelaksanaan yang sangat menyimpang dari rencana
semula.
(2).Menurut Mary Follet
Keputusan adalah suatu hukum atau
sebagai hukum situasi.
Apabila semua fakta dari situasi
itu dapat diperolehnya dan semua yang terlibat, baik pengawas maupun pelaksana
mau mentaati hukumnya atau ketentuannya, maka tidak sama dengan mentaati
perintah. Wewenang tinggal dijalankan, tetapi itu merupakan wewengan dari hukum
situasi.
(3).Menurut James A.F. Stoner
Keputusan adalah pemilihan
diantara alternatif-alternatif. Definisi ini mengandung tiga pengertian, yaitu
:
• Ada pilihan dasar logika atau
pertimbangan
• Ada beberapa alternatif yang harus dan
dipilih salah satu yang terbaik
• Ada tujuan yang ingin dicapai, dan
keputusan itu makin mendekatkan pada
tujuan tersebut.
(4).Menurut Prof.Dr.Prajudi
Atmosudirjo,SH.
Keputusan adalah suatu
pengakhiran dari proses pemikiran tentang suatu masalah atau problema untuk
menjawab pertanyaan apa yang harus diperbuat guna mengatasi masalah tersebut,
dengan menjatuhkan pilihan pada suatu alternatif.
Dari pengertian-pengertian
keputusan di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa: keputusan merupakan
suatu pemecahan masalah sebagai suatu hukum situasi yang dilakukan melalui
pemilihan satu alternatif dari beberapa alternatif
b. Pengertian Pengambilan Keputusan
Terdapat beberapa pengertian
pengambilan keputusan yang telah disampaikan oleh para ahli, diantaranya adalah
sebagai berikut :
(1).Menurut George R. Terry
Pengambilan keputusan adalah
pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih
alternatif yang ada.
(2).Menurut S.P. Siagian
Pengambilan keputusan adalah
suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan
mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling
tepat.
(3).Menurut James A.F. Stoner
Pengambilan keputusan adalah
proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan
masalah
Dari pengertian-pengertian
pengambilan keputusan di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa :
Pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemilihan alternatif terbaik dari
beberapa alternatif secara sistematis untuk ditindaklanjuti (digunakan) sebagai
suatu cara pemecahan masalah.
2. Proses Pengambilan Keputusan
a. Proses Pengambilan Keputusan
Proses pengambilan keputusan
merupakan tahap-tahap yang harus dilalui atau digunakan untuk membuat
keputusan. Tahap-tahap ini merupakan kerangka dasar, sehingga setiap tahap
dapat dikembangkan lagi menjadi beberapa sub tahap (disebut langkah) yang lebih
khusus/spesifik dan lebih operasional.
Secara umum, proses pengambilan
keputusan terdiri atas tiga tahap, yaitu sebagai berikut :
(1).Penemuan Masalah
Tahap ini merupakan tahap untuk
mendefinisikan masalah dengan jelas, sehingga perbedaan antara masalah dan
bukan masalah (misalnya isu) menjadi jelas.
(2).Pemecahan Masalah
Tahap ini merupakan tahap
penyelesaian terhadap masalah yang sudah ada atau sudah jelas. Langkah-langkah
yang diambil adalah sebagai berikut :
• Identifikasi alterntif-alternatif
keputusan untuk memecahkan masalah
• Perhitungan mengenai faktor-faktor
yang tidak dapat diketahui sebelumnya atau di luar jangkauan manusia,
identifikasi peristiwa-peristiwa di masa datang (state of nature)
• Pembuatan alat (sarana) untuk
mengevaluasi atau mengukur hasil, biasanya berbentuk tabel hasil (pay off
table).
• Pemilihan dan penggunaan model
pengambilan keputusan
(3).Pengambilan Keputusan
Keputusan yang diambil adalah
berdasarkan pada keadaan lingkungan atau kondisi yang ada, seperti kondisi
pasti, kondisi beresiko, kondisi tidak pasti, dan kondisi konflik.
b. Pendapat Para Ahli tentang Proses
Pengambilan Keputusan
(1).Menurut Simon (1960)
Simon (1960) mengajukan model yang
menggambarkan proses pengambilan keputusan. Proses ini terdiri atas tiga fase,
yaitu :
1. Intelligence
Tahap ini merupakan proses
penelusuran dan pendeteksian dari lingkup problematika serta proses pengenalan
masalah. Data masukan diperoleh, diproses, dan diuji dalam rangka
mengidentifikasikan masalah.
2. Design
Tahap ini merupakan proses
menemukan, mengembangkan, dan menganalisis alternatif tindakan yang bisa
dilakukan. Tahap ini meliputi proses untuk mengerti masalah, menurunkan solusi,
dan menguji kelayakan solusi.
3. Choice
Pada tahap ini dilakukan proses
pemilihan diantara berbagai alternatif tindakan yang mungkin dijalankan. Hasil
pemilihan tersebut kemudian diimplementasikan dalam proses pengambilan
keputusan.
Pengambilan Keputusan
Meskipun implementasi termasuk
tahap ketiga, namun ada beberapa pihak berpendapat bahwa tahap ini perlu
dipandang sebagai bagian yang terpisah guna menggambarkan hubungan antar fase
secara lebih komprehensif. Dalam hal ini, Model Simon juga menggambarkan
kontribusi Sistem Informasi Manajemen (SIM) dan Ilmu Manajemen/Operations
Research (IM/OR) terhadap proses pengambilan keputusan.
(2).Menurut Richard I. Levin, dkk
Menurut Richard, et., all. Proses
Pengambilan Keputusan terdiri atas 6 tahap, yaitu sebagai berikut :
1. Observasi
Tahap ini berupa (aktivitas
proses) kunjungan lapangan, konprensi, observasi, dan riset yang dapat menjadi
informasi dan data penunjang.
2. Analisis dan Pengenalan Masalah
Tahap ini dapat berupa (aktivitas
proses) penentuan penggunaan, penentuan tujuan, dan penentuan batasan-batasan
yang dapat menjadi pedoman atau petunjuk yang jelas untuk mencari pemecahan
yang dibutuhkan.
3. Pengembangan Model
Tahap ini dapat berupa (aktivitas
proses) peralatan pengambilan keputusan antar hubungan model matematik, riset
yang dapat menjadi (output proses) model yang berfungsi di bawah batasan
lingkungan yang telah ditetapkan.
4. Memilih Data Masukan yang Sesuai
Tahap ini dapat berupa data
internal dan eksternal, kenyataan, pendapat, serta data bank komputer yang
dapat menjadi (output process) input yang memadai untuk mengerjakan dan menguji
model yang digunakan.
5. Perumusan dan Pengujian
Tahap ini berupa pengujian,
batasan, dan pembuktian yang dapat menjadi pemecahan yang membantu pencapaian
tujuan.
6. Penerapan Pemecahan
Tahap ini berupa pembahasan
perilaku, pelontaran ide, pelibatan manajemen, serta penjelasan yang menjadi
pemahaman manajemen untuk menunjang model operasi dalam jangka yang lebih
panjang.
(3).Menurut Sir Francis Bacon
Menurut Sir Francis Bacon Proses
Pengambilan Keputusan terdiri atas 6 tahap, yaitu sebagai berikut :
1. Merumuskan/Mendefiniskan Masalah
Tahap ini merupakan usaha untuk
mencari permasalahan yang sebenarnya
2. Pengumpulan Informasi yang Relevan
Tahap ini merupakan pencarian
faktor-faktor yang mungkin terjadi sehingga dapat diketahui penyebab timbulnya
masalah
3. Mencari Alternatif Tindakan
Tahap ini merupakan pencarian
kemungkinan yang dapat ditempuh berdasarkan data dan permasalahan yang ada
4. Analisis Alternatif
Tahap ini merupakan analisis
terhadap setiap alternatif menurut kriteria tertentu yang sifatnya kualitatif
atau kuantitatif
5. Memilih Alternatif Terbaik
Tahap ini merupakan pemilihan
alternatif terbaik yang dilakukan atas kriteria dan skala prioritas tertentu
6. Melaksanakan Keputusan dan Evaluasi Hasil
Tahap ini merupakan tahap
pelaksanaan dan pengambilan tindakan. Umumnya tindakan ini dituangkan ke dalam
rencana tindakan. Evaluasi hasil memberikan masukan/umpan balik yang bergunan
untuk memperbaiki suatu keputusan atau mengubah tujuan semula karena telah
terjadi perubahan-perubahan.
(4).Menurut Prof.Dr.S.Prajudi
Atmosudirjo
Menurut Prof.Dr.S.Prajudi
Atmosudirjo Proses Pengambilan Keputusan terdiri atas 5 tahap, yaitu sebagai
berikut :
1. Seseorang mula-mula harus menyadari dan
menempatkan diri sebagai pimpinan dalam organisai dan bertanggung jawab sebagai
pimpinan organisasi serta harus memutuskan sesuatu jika dalam organisasi
tersebut muncul masalah.
2. Masalah yang dihadapi, terlebih dahulu harus
ditelaah, mengingat masalah tersebut memiliki macam-macam sifat, bentuk dan
kompleksitasnya.
3. Setelah ditelaah, kemudian harus dianalisis
situasi yang mempengaruhi organisasi dan masalahnya.
4. Menelaah keputusan yang dibuatnya, terutama
yang ditelaah adalah alternatif-alternatif yang dikemukakan dengan konsekuensi
masing-masing untuk kemudia dipilih satu di antara alternatif-alternatif
tersebut yang dianggap paling tepat
5. Setelah keputusan diambil, kemudian
keputusan itu dilaksanakan. Keberhasilannya tergantung pada jiwa dan manajemen
dari kepemimpinan.
3.. Jenis-Jenis Pengambilan
Keputusan
a. Pengambilan Keputusan Individu
Robin (1991) mengemukakan
model-model pengambilan keputusan individual, dengan pendekatan contongency
(model pengambilan keputusan yang dipilih dan diguanakan sesuai dengan situasi
tertentu, antara lain sebagai berikut :
(1).The Satisficing Model
Esensi dari the satisficing
model, pada saat dihadapkan pada masalah kompleks, pengambil keputusan berusaha
menyederhanakan masalah-masalah pelik sampai pada tingkat dimana dia siap untuk
memahaminya. Dalam model ini pembatasan proses pemikiran diarahkan pada
pengambilan keputusan dengan bounded rationality (rasionalitas terbatas), yaitu
proses penyederhanaan model dengan mengambil inti masalah yang paling esensial
tanpa melibatkan seluruh permasalahan yang konkrit
Rasionalitas terbatas adalah
batas-batas pemikiran yang memaksa orang membatasi pandangan mereka atas
masalah dan situasi. Pemikiran itu terbatas, karena pikiran manusia tidak
memiliki kemampuan untuk memisahkan dan mengolah informasi yang bertumpuk. Bagi
para pengambil keputusan, daripada mempertimbangkan enam atau delapan
alternatif, lebih baik cukup bekerja dengan dua atau tiga alternatif untuk
mencegah kekacauan. Pada dasarnya, manusia sudah berpikir logis dan rasional,
tetapi dalam batas-batas yang sempit.
Langkah-langkah model pengambilan
keputusan ini (the satisficing model) adalah sebagai berikut :
• Penetapan tujuan pengambilan keputusan
berkaitan dengan adanya masalah tertentu.
• Menyederhanakan masalah
• Penetapan standar minimum dari
serangkaian kriteria keputusan
• Mengidentifikasi serangkaian
alternatif yang dibatasi
• Menganalisis dan membandingkan setiap
alternatif, apakah memenuhi kendala, lebih besar atau sama dengan standar minimum dari serangkaian
keputusan
• Apakah alternatif yang memenuhi syarat
itu ada ?
• Jika ya, pilih salah satu alternatif
yang dianggap terbaik
• Jika tidak, dilakukan kembali
pencarian alternatif seperti pada langkah kelima
(2).The Optimizing Decision
Making Model
Dalam model
ini, decesion maker yang penuh keyakinan berusaha menyusun
alternatif-alternatif, memperhitungkan untung rugi dari setiap alternatif itu
terhadap tujuan organisasi. Setelah itu, diperkirakan kemungkinan timbulnya
bermacam-macam kerjadian di kemudian hari, mempertimbangkan dampak dari
kejadian-kejadian itu terhadap alternatif-alternatif yang telah dirumuskan, dan
menyusun urut-urutannya secara sistematis sesuai prioritas. Barulah dibuat
keputusan yang dianggap sudah optimal karena telah memperhitungkan semua faktor
yang berkaitan dengan keputusan tersebut.
Model ini
menggambarkan bagaimana individu harus memaksimalkan hasil dari keputusan yang
diambilnya. Lima tahap/langkah yang harus diikuti, baik secara implisit maupun
eksplisit dalam proses keputusan menurut model ini, yaitu :
· Tegaskan
kebutuhan untuk suatu keputusan
· Identifikasi
kriteria keputusan
· Alokasi
bobot nilai pada kriteria
· Kembangkan
berbagai alternatif
· Evaluasi
alternatif-alternatif tersebut di atas
· Pilih
alternatif terbaik
(3).The
Implicit Favorite Model
Model ini
dirancang dalam kaitan dengan keputusan kompleks dan tidak rutin. Model ini
menyangkut proses penyederhanaan masalah yang kompleks oleh individu pembuat
keputusan. Bedanya dengan satisficing model, bahwa model ini tidak
memasuki tahap pengambilan keputusan melalui pengevaluasian alternatif yang
cukup sulit karena perlu rasional dan obyektif.
· Menentukan
kebutuhan untuk mengambil keputusan karena ada masalah
· Mengidentifikasi
alternatif dan langsung menetapkan pilihan satu alternatif menurut
preferensinya
· Mengidentifikasi
alternatif lain, kemudian dipilih lagi satu alternatif lain sebagai pembanding
untuk mengukuhkan alternatif favorit.
· Memilih
alternatif yang menjadi idaman pengambil keputusan.
(4).The
Intuitive Model
The
intuitive decesion making didefinisikan sebagai suatu proses bawah
sadar/tidak sadar yang timbul atau tercipta akibat pengalaman yang terseleksi.
Model ini tidak berarti sama sekali dilaksanakan tanpa analisis rasional.
Irasional dan rasional saling melengkapi dalam proses keputusan. Terdapat dua
pendekatan dalam menggunakan model ini, yaitu :
· A front
end approach
Pengambil
keputusan mencoba untuk menghindari menganalisis masalah secara sistematis. Di
sini intuisi diberi kekuasaan penuh untuk mengembangkan suatu gagasan yang
mencoba untuk memunculkan kemungkinan-kemungkinan yang luar biasa. Jadi
keputusan tidak dibangun dari data yang lalu.
· A
back end approach
Pengambilan
keputusan menggunakan intuisi dengan bersandar pad analisis, rasional, untuk
mengidentifikan dan mengalikasi bobot nilai kriteria. Seperti halnya untuk
mengambang dan mengevalusi berbagai alterantif. Pada saat tahap ini sudah
dilaksanakan, si pengambil keputusan beristirahat satu atau dua hari
dari kegiatan keputusan ini, sebelum menentukan pilihan keputusan akhir (final).
b. Pengambilan
Keputusan Kelompok
Menurut
Bodily (1985) model pengambilan keputusan kelompok dimulai dari bentuk metode
yang sederhana berlanjut ke bentuk lebih canggih, yang paling baik dilaksanakan
adalah dengan bantuan komputer. Bodily ingin menggambarkan bahwa apapun
metodenya, pada dasarnya harus dapat memasukkan preferensi individu dan
selanjutnya dapat mengakomodasikan berbagai kepentingan kelompok.
Beberapa
metode pengambilan keputusan kelompok yang dikemukakan oleh Bodily, anatara
lain sebagai berikut :
(1).Pareto
Optimality
Perangkat
optimal pareto memilih satu alternatif yang tidak didominasi oleh alternatif
lainnya. Kekurangan dari Pareto adalah adanya peringkat alternatif-alternatif
yang lengkap yang belum diidentifikasi sehingga setiap individu memperoleh
keuntungan dengan beralih dari alternatif non-Pareto ke alternatif optimal
pareto, karena pilihan kelompok dimulai jika perangkat pareto telah
diidentifikasi. Pendekatan yang lebih baik adalah terlebih dahulu
mengidentifikasi alternatif optimal pareto. Jika ada beberapa alternatif
pareto, dibutuhkan metode lain untuk memilih satu alternatif.
(2).The
Nash Bargaining Solution
Salah satu
cara memandang masalah keputusan kelompok adalah tawar menawar (bargaining).
Nash merumuskan masalah tawar menawar ini sampai kepada solusinya. Hasilnya
adalah para pelaku harus meningkatkan produk yang bermanfaat bagi mereka
masing-masing (product individual utilities). Peranan solusi Nash
tersebut adalah menghitung sejauh mana keuntungan relatif dari suatu tawar
menawar dengan nilai dasar yang akan berlaku, bila tidak ada kesepakatan.
Pendekatan Nash didasarkan pada pengertian bersaing dari pembuat keputusan
kelompok dan solusi equilibrium terhadap masalah tawar menawar. Dampak ancaman
dari masing-masing pelaku ikut dipertimbangkan. Masing-masing individu mencari
kebaikan untuk kepentingan diri sendiri dan atau kelompoknya.
Model-Model
Pengambilan Keputusan
a. Rasional
Analitis
Pengambil
keputusan rasional analitis mempertimbangkan semua alternatif dengan segala
akibat dari pilihan yang diambilnya, menyusun segala akibat dan memperlihatkan
dan memperhatikan skala pilihan (scale of preference) yang pasti, dan
memilih alternatif yang memberikan hasil maksimum. Pengambilan keputusan secara
rasional analitis menurut Mangkusubroto dan Trisnadi (1985) dapat digambarkan
sebagai berikut :
b. Intuitif
Emosional
Pengambil
keputusan dengan intuitif emosional menyukai kebiasaan dan
pengalaman, perasaan yang mendalam, pemikiran yang reflektif dan naluri dengan
menggunakan proses alam bawah sadar. Proses ini dapat didorong oleh naluri,
orientasi kreatif, dan konfrontasi kreatif. Mereka yang menentang pendekatan
ini mengemukakan bahwa cara ini tidak secara efektif menggunakan semua sarana
yang ada bagi keputusan modern.
Model
pengambil keputusan yang menggunakan intuisinya seringkali dikritik sebagi
immoral. Kritik yang sering dilontarkan terhadap pengambilan keputusan dengan
intuisi adalah karena kurang mengadakan analisis yang terkendali maka perhatian
hanya ditujukan pada beberapa fakta dan melupakan banyak elemen penting. Dalam
pengambilan keputusan dengan menggunakan intuisi tidak banyak tergantung pada
fakta yang lengkap. Model pengambilan keputusan dengan intuisi menurut
Mangkusubroto dan Trisnadi (1985)
Metode-Metode
Analisa Pengambilan Keputusan
A. Kewenangan
Tanpa Diskusi
Metode pengambilan keputusan ini
seringkali digunakan oleh pemimpin otoratik atau dalam kepemimpinan militer.
Metode ini memiliki beberapa keuntungan, yaitu cepat, dalam arti ketika
organisasi tidak mempunyai waktu yang cukup untuk memutuskan apa yang harus
dilakukan. Selain itu metode ini cukup sempurna dapat diterima kalau
pengambilan keputusan yang dilaksanakan berkaitan dengan persoalan-persoalan
rutin yang tidak mempersyaratkan diskusi untuk mendapatkan persetujuan para
anggotanya.
Namun demikian, jika metode
pengambilan keputusan ini terlalu sering digunakan, ia akan menimbulkan
persoalan-persoalan, seperti munculnya ketidak kepercayaan para anggota
organisasi terhadap keputusan yang ditentukan pemimpinnya, karena mereka kurang
bahkan tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Pengambilan
keputusan akan memiliki keputusan yang lebih bermakna, apabila dibuat secara
bersama-sama dengan melibatkan seluruh anggota kelompok, dari pada keputusan
yang diambil secara individual.
B. Penadapat
Ahli
Kadang-kadang seorang anggota
organisasi oleh anggota lainnya di beri predikat sebagai ahli
(expert), sehingga memungkikannya memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk
membuat keputusan. Metode pengambilan keputusan ini akan bekerja
dengan baik, apabila seorang anggota organisasi yang diangap ahli tersebut
memang benar-benar tidak diragukan lagi kemampuannya dalam hal tertentu oleh
anggota lainnya.
Dalam banyak kasus, persoalan
orang yang dianggap ahli tersebut bukanlah masalah yang sederhana, karena
sangat sukit menentukan indicator yang dapat mengukur orang yang dianggap ahli
(superior). Ada yang berpendapat bahwa orang yang ahli adalah orang yang
memiliki kualitas terbaik untuk membuat keputusan, namun sebaliknya tidak
sedikit pula orang yang tidak setuju dengan ukuran tersebut. Karenanya,
menentukan apakah seseorang dalam kelompok benar-benar ahli dalam persoalan
yang rumit.
C. Kewenangan
Setelah Diskusi
Sifat otoratik dalam pengambilan
keputusan ini lebih sedikit apabila dibandingakn dengan metode yang pertama .
Karena metode rule after discussion ini pertimbangkan pendapat atau opini lebih
dari satu anggota organisasi dalam peroses pengambilan keputusan. Dengan
demikian, keputusan yang diambil melalui metode ini akan meningkatkan kualitas
dan tanggung jawab para anggotanya disamping juga munculnya aspek kecepatan
(quickness) dalam pengambilan keputusan sebagai hasil dari usaha menghindari
proses diskusi yang terlalu meluas. Dengan perkataan lain, pendapat anggota
organisasi sangat diperhatikan dalam proses pembutan keputusan, namun perilaku
otoratik dari pimpinan, kelompok masih berpengaruh.
Metode pengambilan keputusan ini
juga mempunyai kelemahan, yaitu pada anggota organisasi akan bersaing untuk
mempengaruhi pengambil atau pembuat keputusan.
Artinya bagaimana para anggota
organisasi yang mengemukakan pendapatnya dalam proses pengambilan keputusan,
berusaha mempengaruhi pimpinan kelompok bahwa pendapatnya yang perlu
diperhatikan dan dipertimbangkan.
D. Kesepakatan
Kesepakatan atau consensus akan
terjadi kalau semua anggota dari suatu organisasi mendukung keputusan yang
diambil. Metode pengambilan keputusan ini memiliki keuntungan, yakni
partisipasi penuh dari seluruh anggota organisasi akan
dapat meningkatkan kualitas keputusan yang diambil, sebaik seperti
tanggung jawab para anggota dalam mendukung keputusan tersebut. Selain itu
metode konsensus sangat penting khususnya yang berhubungan dengan
persoalan-persoalan yang kritis dan kompleks.
Namun demikian, metode
pengambilan keputusan yang dilakukan melalui kesepaktan ini, tidak lepas juga
dari kekurangan-kekurangannya. Yang paling menonjol adalah dibutuhkannnya waktu
yang relative lebih baik dan lebih lama, sehingga metode ini tidak cocok untuk
digunakan dalam keadaan mendesak atau darurat.
Keempat metode pengambilan
keputusan diatas, menurut Alder dan Rodman, tidak ada yang terbaik dalam arti
tidak ada ukuran-ukuran yang menjelaskan bahwa satu metode ilmiah unggul
dibandingankan metode pengambilan keputusan lainnya. Metode yang paling efektif
yang dapat digunakan dala situasi tertentu, bergantung pada factor-faktor :
- Jumlah
waktu yang ada dan dapat dimanfaatkan.
- Tingkat
pentingnya keputusan yang akan diambil oleh kelompok, dan
- Kemampuan-kemampuan
yang dimiliki oleh pemimpin kelompok dalam mengelola kegiatan pengambilan
keputusan tersebut.
Pemecahan
masalah
Prinsip utama untuk menetapkan
suatu masalah adalah mengetahui fakta, kemudian memisahkan fakta tersebut dan
melakukan interpretasi data menjadi fakta objektif dan menentukan luasnya
masalah tersebut. Manajer membutuhkan kemampuan untuk menetapkan prioritas
pemecahan masalah. Umumnya untuk pemecahan masalah selalu menggunakan metoda
coba-coba dan salah, eksperimen, dan atau tidak berbuat apa-apa (“do nothing”).
Pembuatan keputusan dapat dipandang sebagai proses yang menjembatani hal yang
lalu dan hal yang akan datang pada saat manajer hendak mengadakan suatu
perubahan.
Proses pemecahan masalah dan
pengambilan keputusan diatas adalah salah satu penyelesaian yang dinamis.
Penyebab umum gagalnya penyelesaian masalah adalah kurang tepat
mengidentifikasi masalah. Oleh karena itu identifikasi masalah adalah
langkah yang paling penting. Kualitas hasil tergantung pada keakuratan dalam
mengidentifikasi masalah.
Identifikasi masalah dipengaruhi
oleh informasi yang tersedia, nilai, sikap dan pengalaman pembuat keputusan
serta waktu penyelesaian masalah. Terutama waktu yang cukup untuk mengumpulkan
dan mengorganisir data.
Langkah-Langkah
Pemecahan Masalah :
1. Mengetahui
hakekat dari masalah dengan mendefinisikan
masalah yang dihadapi.
2. Mengumpulkan fakta-fakta dan
data yang relevan.
3. Mengolah fakta dan data.
4. Menentukan beberapa alternatif
pemecahan masalah.
5. Memilih cara pemecahan dari
alternatif yang dipilih.
6. Memutuskan tindakan yang akan
diambil
A. Mendefinisikan
Masalah
Untuk mengetahui hakekat suatu
masalah tidaklah mudah, karena masalah yang sebenarnya dihadapi sering
terselubung dan tidak terlihat jelas. Oleh karena itu diperlukan keahlian,
pendidikan dan pengalaman untuk membuat diagnosa yang tepat. Untuk itu
manajer perawat dan bidan agar selalu mengembangkan kemampuannya dan belajar
dari pengalaman di masa lalu untuk mempelajari perubahan yang terjadi.
Pengumpulan Data
Pengumpulan data atau informasi
dikerjakan secara berkesinambungan melalui proses yang sistematis
B. Penentuan Alternatif
Baik buruknya sesuatu keputusan
yang diambil sangat tergantung atas kemampuan menganalisa kekuatan dan
kelemahan alternatif-alternatif yang dihadapi. Dalam usaha menganalisa
alternatif yang ada seseorang perlu memperhitungkan :
1. Siapa yang terlibat/dipengaruhi
setiap alternatif ?
2. Tindakan apa yang
diperlukan ?
3. Reaksi apa yang mungkin
timbul ?
4. Dimana sumber reaksi
tersebut ?
5. Interaksi apa yang
diperlukan ?
C. Penentuan
Pilihan yang Terbaik
Pada setiap pengambilan keputusan
selalu disertai dengan pengambilan resiko. Pada umumnya pilihan diambil dari
beberapa alternatif jika diduga bahwa pilihan itu akan memberikan manfaat yang
paling besar baik untuk jangka panjang maupun jangka pendek. Namun demkian
perlu dipertimbang juga bahwa resiko yang menyertai bersifat moderat.
Evaluasi
Untuk mengadakan penilaian yang
baik, diperlukan obyektivitas dalam melakukan penilaian atau evaluasi. Biasanya
suatu hal yang sangat sukar bagi seseorang untuk menilai dirinya sendiri secara
obyektif. Oleh karena itu pelaksanaan penilaian dapat diserahkan kepada pihak
ketiga yang tidak terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk
memperoleh tingkat obyektivitas setinggi mungkin. Untuk proses evaluasi perlu
diperhatikan mengenai tempat dan siapa yang bertanggung jawab serta kapan
hal tersebut dilaksanakan, contoh; sebelumnya manajer menetapkan suatu
kebijakan baru dalam merespon keluhan pengunjung. Untuk menjamin bahwa kegiatan
itu efektif perlu kerja sama dengan semua staf terkait. Kemudian bagaimana
penemuan itu akan dikomunikasikan kepada personal lainnya.

Komentar
Posting Komentar